Halaman

Selasa, 03 Juli 2012

Retorika Dalam Kepemimpinan



PENDAHULUAN


Latar Belakang
Dewasa ini orang mulai mempelajari bahasa yang halus dan lembut serta yang tepat dalam memajukan usahanya, khusunya dalam dunia usaha atau pebisnis. Diharapkan dengan bahasa yang demikian membuat konsumen terpengaruh. Begitu juga dengan pemimpin, baik pemimpin yang terkecil sampai dengan pemimpin besar.
Pemimpin yang di kenal dengan Leadership memiliki power yang berguna untuk mempengaruhi banyak orang, memanajemen sebuah organisasi, memberi tugas, arahan dan bimbingan kepada bawahannya, tanpa retorika yang baik, tidak ada pengaruh. Maka retorika sangat dibutuhkan sorang kepemimpinan, dalam pembangunan dan kemajuan usaha. Retorika buka hanya sekedar berbahasa dan berbicara seperti di warung kopi, di tengah temah sepermainan, tetapi benar-benar menggunakan bahasa yang berusaha memikat dan membuat orang tertarik untuk mendengar, membaca dan mengikutinya.
Dalam pembahasan ini dijelaskan pentingnya retorika dalam kepemimpina, faktor apa saja yang ada dalam retorika kepemimpinan dan dimana letak retorika dalam kepemimpinan tersenut.

PEMBAHASAN

A.    Retorika Dalam Kepemimpinan
Retorika adalah seni berbicara dan menggunakan bahasa yang baik dengan maksud mempengaruhi orang lain agar orang lain mau melakukan apa yang kita sampaikan (ada power). Dalam retorika, ada dua aspek yang harus di ketahui, yaitu pengetahuan mengenai bahasa dan penggunaan bahasa dengan baik[1]. Oleh karena itu, retorika harus di pelajari bagi siapa saja yang ingin menggunakan bahasa dengan cara yang baik untuk tujuan tertentu. Seperti dalam kepemimpinan, Retorika merupakan ilmu dasar dalam kepemimpinan, maka setiap pemimpin harus punya dasar dan kemampuan beretorika, karena retorika adalah seni berbicara, bukan saja sebuah seni tapi bagai mana seni itu bisa berpengaruh dan mempengaruhi oranng lain, kalau dalam kepemimpinan adalah bawahan yang ia pimpin, bisa membuat mereka giat dalam bekerja, menyegani atasannya dan dengan pengaruh pemipin bisa mebuat yang dipimpin termotipasi dan senang dengan kehadiran pemimpin. Selain itu, seorang pemimpin untuk mempengaruhi bawahannya atau masyarakat luas harus mempunyai bahasa yang baik dan benar, disebut dengan retorika[2].
Kepemimpinan atau Leadership merupakan fungsi manajemen atau administrasi untuk menggerakkan organisasi dan memotivasi bawahan untuk mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan. Untuk menggerakkan organisasi itu butuh seorang prmipin sebagai orang yag terdepan[3]. Menurut Dalton Mc. Farland bahwa “Leadership as the process by which and executive imaginativevely direct, guides, or influences the work of others, in choosing and attaining particular ends (Kepemimpinan sebagai suatu proses dimana pimpinan digambarkan akan memberikan perintah atau pengarahan, bimbingan atau mempengaruhi pekerjaan orang lain dalam memilih dan mencapai tujuan yang telah ditetapkan)”.
Kita semua adalah pemimpin, baik pemimpin dalam ruang lingkup yang besar seperti memimpin sebuah Negara, memimpin perusahaan, memimpin usaha dan bisnis, kelurahan , dusun, RT dan RW, juga sebagai kepala keluarga atau pemimpin keluarga. Semua itu, butuh komunikasi atau retorika yang baik dalam mengatur, memajukan dan mempertahankan Negara, perusahaan dan sampai dengan keluarga, seorang pemimpin yang dalam keluarganya sering berantem karean tidak baiknya retorika dalam berkomunikasi yang di sampaikannya, maka pemimpin ini belum dikatakan berhasil meski diya berhasil memimpin orang lain, keberhasilannya itu adalah keberhasilan yang palsu, maka retorika mengantarkan kita sebagai pemimpin yang berbicara dengan istri sebagai pelaksana rumah tangga, jika retorika dalam keluarganya benar dan baik, berbicara sopan, santun, anggun, dan jujur dengan menyentuh hati dari yang  kita ajak berbicara  maka kepemimpinan di keluarganya berhasil, apalagi jika diya memimpin perusahaan atau masyarakt[4].
Banyak kita jumpai para pemimpin yang tidak ramah kepada yang diya pimpin,suka pecat orang sebelum bagun tidur, kalau berbicara tegas tanpa senyum, sehingga bawahannya selaku yang diya pimpin merasa tidak enak dan nyaman, akhirnya tidak memberikan sumbangsih yang baik kepada Negara atau perusahaan. ini menandakan retorika mereka sebagai pemimpin tidak berpengaruh dan bahkan tidak didengarkan oleh yang diya pimpin[5].
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan itu merupakan seni dan proses pengarahan dan bimbingan terhadap kegiatan kerja seseorang atau kelompok karyawan dalam menjalankan kegiatan untuk pencapaian tujuan yang telah ditetapkan. Kepemimpinan mempunyai 3 syarat :
a.       Skill (kecakapan).
b.      Power and Authority (kekuasaan dan wewenang/otoritas.
c.       Gezag/Goodwill (kewibawaan)
Skill (kecakapan) adalah sejumlah pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh melalui belajar formal maupun dari pengalaman yang dimiliki oleh seorang pemimpin untuk mengarahkan, membimbing, dan memerintah bawahannya.
Kekuasaan dan otoritas tidak dapat dipisahkan seperti kedua sisi dari suatu mata uang, karena suatu kekuasaan selalu diikuti dengan otoritas. Power (kekuasaan) adalah kemampuan seseorang atau kelompok untuk mempengaruhi orang lain atau kelompok lain supaya mengikuti dan menuruti keinginan orang/kelompok. Otoritas atau kewenangan adalah dasar pengesahan atau pengabsahan kekuasaan seorang pemimpin agar dituruti/diikuti secara sukarela.
Seorang pemimpin walau sudah mempunyai skills, kekuasaan dan kewenangan kadang tidak menjamin keberhasilannya dalam mengarahkan, memerintah dan membimbing bawahannya. Kadang bawahan menunjukkan sikap kurang menerima dan malah mengungkit kedudukan kepemimpinannya. Hal ini disebabkan pemimpin tersebut tidak mempunyai kewibawaan. Selain hal itu, pemimpin juga menggunakan retorika yang tidak baik kepada bawahannya dalam menyampaikan tugas, memberi arahan dan perintah. Disini lah butuh ilmu retorika dalam kepemimpinan, bahasa yang baik, sopan dan santun tersusun dengan kalimat yang indah dan jelas akan membawa seorang pemimpin dalam mencapai tujuan yang dia inginkan. Bukan sekedar pandai berbicara, tetapi juga  mampu untuk bertindak langsung dengan anggota masyarakat atau kelompok dalam menyampaikan apa yang dibicarakan dan ditugaskan.
 Ditinjau dalam pengertiannya retorika adalah menggunakan seni berbicara dan bahasa yang baik untuk mempengaruhi orang lain agar orang lain terpengaruh, seperti itu juga dengan kepemimpinan adalah manajemen atau administrasi dalam mengatur semua tugas, memberi arahan dan melakukan pengontrolan. Maka dalam kepemimpinan tersebut tidak bisa terlepas dari retorika, hal ini diibaratkan seperti dua sisi mata uang yang saling membutuhkan. Pemimpin dalam menjalankan tugasnya untuk megnatur semua bagian-bagian sistem,butuh retorika yang baik dan santun. Tanpa retorika tersebut, orang lain sulit untuk dipengaruhi, dan akhirnya sistem dalam kepemimpinan itu tidak punya power. Sebagai mana yang dikatakan oleh Aristoteles, untuk mempengaruhi orang lain dalam berbicara ada tiga cara yaitu:
1.      Harus mampu menunjukan kepada khalayak bahwa kita memiliki pengetahuan yang luas, kepribadian yang terpercaya dan status yang terhormat(Ethos).
2.      Harus menyentuh hati khalayak, perasaan, hati, emosi, harapan, kebencian, kasih dan sayang(Phatos).
3.      Meyakinkan khalayak dengan bukti yang meyakinkan(Logos)[6].
Selain kecakapan kepemimpinan itu dalam hal beretorika seperti dikemukakan di atas, juga dalam melaksanakan fungsi kepemimpinan itu tidaklah akan terlepas dengan retorika. Oleh karena itu kedudukan dan peranan seorang pemimpin sudah termasuk di dalamnya sebagai komunikator(retorika). Dengan kata lain fungsi seorang pemimpin itu termasuk instrinsik sebagai retorika. Maka kemampuan kepemimpinan harus juga diikuti dengan kemampuan retorika, yaitu mempunyai ethos, pathos, dan logos. Selain hal itu, retorika juga menguatkan fungsinya dalam kepemimpinan yaitu, mengarahkan komunikasi dari pada pemimpin dengan baik, pada akhirnya mampu menciptakan suasana kepemimpinan yang disegani dan dihormati oleh khalayak luas.

B.     Faktor-faktor Ethos, Pathos dan Logos
Dalam surat kabar Fikiran Ra’jat pada tahun 1933 berdasarkan penyelidikan apakah semboyan yang berbunyi”jangan banyak bicara,tetapi bekerjalah”,benar atau tidak.kesimpulan Manadi ialah bahwa semboyan tersebut tidak benar.Semboyan kita,menurut nasionalis tersebut,haruslah:”Banyak bicara, banyak bekerja!”
Pendapat Manadi itu didukung sepenuhnya oleh Ir.Sukarno dalam artikelnya pada surat kabar yang sama dengan judul ”Sekali lagi,’Bukan jangan banyak bicara ,bekerjalah!”tetapi’Banyak bicara,banyak bekerja!”Dalam artikelnya itu Bung karno dengan gayanya yang khas menandaskan betapa pentingnya retorika dengan mengatakan antara lain:” Titik beratnya,pusatnya kita punya aksi harus terletak di dalam politiekeb bewustmaking dan politieke actie yakni didalam menggugahkan keinsyafan politik daripada rakyat dan di dalam perjuangan politik daripada rakyat.
Memang dalam politik bagi seorang politikus untuk mencapai reputasi, prestasi,dan prestise tanpa pengguasaan retorika bagaimana ia bisa menyebarluaskan idenya pada rakyat dan menanamkan idenya pada benak individu tanpa retorika. Seorang politikus atau orator harus mampu membawa rakyat kearah yang dituju bersama-sama, apakah itu mengusir penjajah atau mengisi kemerdekaan dengan berpatisipasi dalam pembangunan.
Terlepas dari persoalan suka atau tidak suka,senang atau tidak senang kepada Bung Karno, bila dalam pembahasan”Retorika dalam Kepemimpinan”ini di tonjolkan figur Bung Karno, ini adalah contoh yang tepat bagi penelaahan retorika sebagai objek studi ilmu retorika.
Sebagai seorang orator politik, siapa pun harus memiliki persyaratan yang meliputi aspek-aspek psikis dan fisik, aspek teoretis yang lengkapi kegiatan praktek. Pada diri seorang pemimpin harus ada faktor-faktor ethos,pathos,dan logos .Sejauh mana faktor-faktor tesebut di miliki Bung Karno sebagai Proklamator Kemerdekaan Indonesi. Faktor-faktor ethos, pathos dan logos yang tercakup oleh retorika dapat dijumpai padanya.
Ethos yang merupakan kredebilitas sumber tidak disangsikan lagikarena jelas perjuangannya untuk tanah air dan bangsa, jelas pengetahuaanya berlandaskan pendidikan formal ditambah hasil studi literatur mengenai segala aspek kehidupan[7].

PENUTUP

A.    Kesimpulan
Retorika adalah semua ilmu dasar dalam kepemimpinan, tanpa retorika yang baik seorang pemimpin tidak bisa membentuk kerjasama yang baik, tidak bisa menatur bawahannya dengan benar dan tidak mempengaruhi banyak orang untuk berbuat lebih banyak dalam melakukan sebuah perubahan dan pembangunan.
Pentingnya retorika dalam kepemimpinan ini membuat seorang pemimpin bisa mengarahkan orang yang berada dibawahnya, sebagai mana yang di maksut pemimpin adalah orang yang mengarahkan dan mampu mempengarui bawahannya untuk tujuan tertentu. Retorika dalam kepemimpinan berada dalam bahasa, etika dan kemampuan pemimpin dalam mengarahkan orang untuk maksud tertentu.
Retorika dalam kepemimpinan ada tiga hal yang sangat penting untuk diperhatikan yaitu ethos,pathos,dan logos. Tiga faktor ini yang berperan penting dalam proses retorika kepemimpinan, jika faktor tersebut tidak dimiliki kemingkinan pengaruh seeorang pemipin terhadap khalayak ramai berkurang.

B.     Saran
Retorika adalah seni berbicara dan berbahasa yang baik dan benar, dengan bahasa yang indah dan juga etika yang baik akan membawa seorang individu berhasil dalam hubungan sosialnya, maka yang diperhatikan adalah penguasaan bahasa dan penggunaan bahasa dalam beretorika.






DAFTAR PUSTAKA

Ali, M. Zazri, 2008, Dasar-Dasar Manajemen. Pekanbaru: SUSUKA PRESS
Effendy UchanaUnong, 2004, Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek, Bandung: PT. Rosdakarya
M. Hum Rahmadi Junjana, 2006, Dimensi-Dimensi Kebahasaan, Yogyakarta: PT. Gelora Aksara
Usman Husen, 1990, Gaya Berbahasa yang Baik dan Seni Berbahasa, Jakarta: Rineka Cipta
http://developmentcountry.blogspot.com



[1] Husen Usman, Gaya Berbahasa yang Baik dan Seni Berbahasa, (Jakarta: Rineka Cipta, 1990) hal 3
[2] Ibid, hal 5
[3] Zazri m, Ali. Dasar-Dasar Manajemen. (Pekanbaru: SUSUKA PRESS. 2008) hal 2
[4] www.MTGW.com
[5] Ibid
[6] http://developmentcountry.blogspot.com

[7] Ibid

Tidak ada komentar:

Posting Komentar