Halaman

Selasa, 03 Juli 2012

Sistem status dan Pelapisan Masyarakt


PENDAHULUAN

            Pelapisan sosial adalah pembedaan masyarakat kedalam kelas-kelas secara bertingkat ang wujudnya adalah kelas tinggi dan kelas-kelas yang lebih rendah. Sistem pelapisan sosial itu merupakan ciri yang tetap dan umum dalam setiap masyarakat yang hidup teratur. Barang siapa yang memiliki suatu yang berharga seperti misalnya tanah, uang, ternak, dan sebagainya dalam jumlah yang sangat banyak, di anggap oleh masyarakat berkedudukan dalam lapisan atas, mereka yang sedikit sekali atau sama sekali tidak memiliki sesuatu yang berharga itu dalam pandangan masyarakat mempunyai kedudukan yang rendah.
            Dalam hal tingkatan sosial, posisi-posisi tersebut(misalnya pemimpin, pengikut) mempunyai status sosial tertentu. Karena peranan sosial yang menunjuk pada keseluruhan norma dan harapan yang di tunjukkan orang hanya pada orang-orang dalam posisi tertentu, maka peranan orang-orang itu mencerminkan pula status sosialnya.
            Hubungan sosial dan relasi berlangsung karena terjadinya soal-soal yang penting di antara para pelaku interaksi dan komunikasi itu. Ciri-ciri interaksi dan komunikasi dengan tiga buah aspeknya(pikiran, perasaan, dan kemauan), dapat di tunjukkan dimensi-dimensi struktural yang terdiri dari jarak sosial, integrasi sosial, dan tingkatan sosial.

PEMBAHASAN

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                  
A.    Sistem status yang berubah
Sekitar tahun 1900, Belanda berhasil menegakkan kekuasaannya di seluruh kepulauan Indonesia. Pelapisan masyarakat colonial menurut garis ras, yang lazim terdapat di Jawa, mulai meluas ke pulau-pulau seberang. Tetapi pada abad XX terjadi perkembangan dinamis yang menerobos pola yang kaku ini dan meningkatkan mobilitas social.
Penanaman tanaman-tanaman yang hasilnya untuk di jual di luar kota telah menimbulkan sebentuk paham individualisme ekonomi tertentu yang memberontak terhadap ikatan-ikatan tradisional dan terhadap kekuasaan ketua-ketua adat. Pendidikan juga mempunyai pengaruh dinamis di pulau-pulau luar jawa. Untuk para cendekiawan, sedikit sekali pekerjaan di ladang atau di daerah karet. Karena itu, kebanyakan orang-orang yang mendapatkan pendidikan dengan cara barat berkumpul di jawa ketika bersekolah dan setelah selesai sekolah mereka.
Semenjak tahun 1900, di jawa dapat pula di perhatikan bertambah meningkatnya perbedaan profesi. Bertambah meluasnya ekonomi uang dan meningkatnya hubungan dengan Barat telah menyebabkan timbulnya lapangan kerja baru. Orang Indonesia semakin banyak juga yang bekerja di bidang perdagangan di bandingkan sebelumnya.
Perkembangan selanjutnya ketika masa depresi tahun30-an juga menunjukkan bahwa sebelum tahun 1930, suatu kelas bumiputera yang baru tumbuh telah mulai ada, mendobrak susunan masyarakat tradisional lama dan melakukan pengaruh yang bersifat individual, dimana dalam proses ini mereka menjadi terbiasa dengan cara kehidupan barat.
Tetapi di jawa, pengaruh ini terlindungi oleh cara tradisional masyarakat. Bagaimana elementernya pendidikan dasar, tetapi karena si anak harus mengenal kewibawaan guru, di samping kewibawaan orang tua, maka pendidikan itu mempunyai pengaruh terhadap skala tradisional prestise kemasyarakatan dan terutama terhadap kewibawaan orang tua. Pengaruh nya lebih terasa lagi ketika pendidikan si anak memungkinkannya mendapat pekerjaan di luar lingkungan pertanian Indonesia, yang juga mengandung prestise kemasyarakatan dan kemakmuran materi yang jauh lebih hebat dari apa yang di capai di rumah.
Dengan demikian pendidikan telah menciptakan kelas baru kaum cendekiawan yang menduduki suatu posisi baru dalam masyarakat. Prestise social dan kehidupan materi yang lebih makmur yang di kaitkan pada posisi cendekiawan adalah demikian menariknya sehingga banyak rakyat biasa rela memberikan kepada anak-anak mereka keuntungan-keuntungan pendidikan yang baik secara pantas.                                                                      
 Pendidikan telah menciptakan seluruh kelas orang Indonesia yang mempunyai pendidikan Barat sampai ketingkat tertentu., dan adanya kelas ini telah menimbulkan suatu akibat yang sama dinamisnya terhadap system status di Jawa seperti pengaruh perkebunan karet di luar Jawa.
Pertama-tama, adanya kelas ini mempengaruhi system nilai kemasyarakatan dalam masyarakat Indonesia. Kalau di zaman dahulu, orang hanya memandang kapada pemuka-pemuka tradisional dan para pemimpin agama, sekarang mereka mulai menilai kewibawaan para pemimpin kerohanian yang baru, yaitu para cendekiawan. Guru sekolah yang terlatih secara barat inilah yang pertama-tama melambangkan prastise yang baru. Pertumbuhan Sarekat Islam yang luar biasa besarnya telah menunjukkan bahwa massa tidak lagi patuh kepada kekuasaan tradisional tatapi mengikuti kepemimpinan kepala-kepala serikat buruh yang berasal dari kelompok cendekiawan.
Kelas cendekiawan tidak saja mendobrak susunan kemasyarakatan Jawa tradisional, tapi juga mendobrak pelapisan social colonial pada abad XIX yang berdasarkan perbedaan ras. Pendidikan Barat telah memberikan kesempatan kepada orang-orang Indonesia untuk mengisi jabatan-jabatan yang tadinya di sediakan untuk kasta EROPA saja. Dengan cara begini dasar system status colonial secara berangsur-angsur rubuh.
Setelah tahun 1900, pendidikan terbuka untuk sejumlah besar orang-orang Indonesia. Permintaan akan tenaga terlatih selalu meningkat. Orang-orang Indonesia mulai di angkat kepada jabatan-jabatan yang tadinya merupakan hak-hak istimewa orang-orang eropa.
Pendidikan model barat dengan bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar, telah menimbulkan keintiman kebudayaan antara kelompok-kelompok yang luas dari orang-orang Indonesia dan orang-orang eropa yang tumbuh kembang di Indonesia. Persaingan yang semakin hebat dalam suatu masyarakat dimana karena adanya suatu system ekonomi yang dominan, serta terdapat lebih banyak lamaran dari pada kesempatan kerja, telah menyebabkan para anggota kaum borjuis mempersatukan barisan untuk mencapai solidaritas kelompok.
Sekitar tahun 1920, golongan indo bergabung dalam persatuan indo eropa dalam mengahadapi kelas yang sedang menanjak, yaitu orang-orang Indonesia yang berpendidikan barat. Tujuan utamanya adalah untuk memepertahankan hak-hak istimewa kemasyarakatan yang telah mereka peroleh sendiri.      
Di pihak lain, kalangan orang-orang Indonesia terdapat kecendrungan yang lebih besar untuk mengadakan persatuan. Ini di sertai dengan kesadaran kebangsaan yang semakin meningkat dan rasa hormat yang semakin berkurang terhadap bangsa Belanda sebagai suatu factor social, juga terhadap pengangkatan di dalam dinas pemerintahan Belanda dan terhadap sikap asimilasi ke dalam kalangan-kalangan belanda. Penggunaan bahasa Indonesia, suatu bentuk bahasa melayu yang di permodern, serta pemakaian kopiah, suatu tutup kepala berwarna hitam telah menjadi lambang dari kesadaran nasional.
Dalam tahun kemelut, perjuangan persaingan ini menjadi lebih hebat. Orang-orang indo harus mengikuti kursus-kursus yang lebih tinggi dalam pendidikan agar dapat mempertahankan tingkat eropanya. Di pihak lain semakin banyak pula jumlah orang-orang indo yang gagal dalam perjuangan ini, dan telah menyebabkan banyak orang-orang indo jatuh ke dalam kondisi kemiskinan materi. Proses seperti itu dapat juga di lihat di dunia dagang, orang cina tidak lagi memegang monopoli dalam lapangan ini. Lagi pula di waktu periode kemelut, pedagang cina menghadapi kesukaran yang lebih besar, karena para importer jawa berusaha untuk menghilangkan perdagangan perantara cina.
Dengan demikian, bahkan sebelum perang, kedudukan istimewa yang diduduki orang eropa dan orang cina, sebagaimana halnya dengan kaum bangsa feodal, telah menjadi amat kurang stabil. Terdapat suatu kecendrungan yang kuat ke arah suatu sistem nilai yang baru berdasarkan kemakmuran individu dan kemampuan intelektual seseorang.
B.     Penyebaran Inovasi dari Lapisan Atas ke Lapisan Bawah   
Adapun yang merupakan penelaahan dalam bagian ini adalah masalah komunikasi dengan mana orang-orang dari lapisan bawah, yang pada umumnya merupakan penerima lambat menjadi tertarik untuk mengadopsi teknologi baru atas pengaruh-pengaruh orang-orang yang telah mengadopsi lebih dulu. Penelaahan di lakukan di dua desa, yaitu:
1.      Desa Cianjur
Dari penelitian, terdapat beberapa kesimpulan:
a.       Warga lapisan atas pada umumnya bersikap responsive terhadap pembaharuan-pembaharuan, dan menerima unsure-unsur pembaharuan langsung dari penyuluhsebagai media yang menyebarkan.
b.      Lingkungan-lingkungan pengaruh tidak berdaya memaksakan pandangan atau kehendaknya kepada para pengikutnya, baik untuk adopsi maupun untuk menghalangi adopsi.
c.       Terjadinya adopsi terhadap inovasi baru adalah atas pengaruh pergaulan akrab, dimana kekaraban ini di mulai sejak kecil.
d.      Penyebran inovasi dari lapisan atas kebawah terjadi melali warga lapisan atas yang secara visual menyterupai orang-orang bawah, merupakan tempat bertanya antara lapisan atas dan lapisan bawah.
e.       Warga lapisan bawah sebagai innovator tidak suka menyuluh secara sengaja, juga tidak merupakan tempat bertanya bagi petani lapisan bawah.
f.       Para petani lapisan bawah pada umumnya tidak ada yang bertanya kecuali beberapa orang saja, maka mereka mengadopsi inovasi baru dengan jalan meniru secara diam-diam dengan hasil yang jauh dari sempurna.
2.      Desa Bekasi
Berdasarkan hasil penelitian, warga lapisan atas adalah responsive terhadap penggunaan pancausahadan khusunya pemupukan pada tanaman padi. Secara relative penyebaran pancausaha pada tanaman padi didesa di desa Bekasi baru saja di mulai.                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                         Orang-orang dari lapisan atas ini bergaul rapat dengan mantra pertanian dan mengikuti kursus yang di selenggarakannya. Hasil sangat sedikit dan sampai sekarang belum menyebar luas, akibat dari serangan ganjur.
C.    Situasi social di desa polewali
Secara keseluruhan desa ini Nampak sebagai daerah masyarakat yang mampu. Banyak gedung-gedung yang di bangun dengan gaya arsitektur baru, dan Nampak terpelihara dengan baik. Dalam masyarakat polewali, terdapat tiga lapisan masyarakat; ulama, pemangku adat dan pejabat=>lapisan atas, pedagang=>lapisan menengah, buruh=>lapisan bawah.
Lapisan kaya terdiri dari para pemangku adat, alim ulama, dan pejabat. Hal ini di perlihatkan oleh laporan yang menyatakan bahwa ketiga golongan penduduk ini memiliki sebagian besar dari took-toko, perusahaan dan tanah pertanian yang terdapat dalam wilayah ini. Terdiri dari orang bugis dan Bandar. Golongan ekonomi sedang terdiri dari para pegawai dan pedagang. Terdiri dari orang mandar, bugis, toraja, orang jawa dan cina. Golngan miskin terdiri dari buruh tani, empang, pelabuhan, angkutan dan bangunan. Terdiri dari orang bugis, toraja, Makassar dan jawa.
 Masyarakat polewali pada dasarnya adalah suatu masyarakat yang lugas, yang mengisi kehidupanm mereka dengan berbagai usaha untuk menghadapi dan menyelesaikan persoalan-persoalan nyata yang terdapat dalam lingkungan mereka. Pada taraf perkembangan sekarang ini, masyarakat polewali Nampak sebagai suatu masyarakat yang lebih bersifat inward looking. Media massa seperti Koran dan tv yang terdapat dalam masyarakat ini sangat terbatas jumlahnya. Berdasarkan deskripsi tentang gaya hidupyang telah di uraikan di atas dapat di perkirakan, bahwa benda-benda mewah ini terutama tersebar di kalangan atas, khususnya di antara keluarga-keluarga yang gemar mengumpulkan symbol-simbol kemewahan.   

PENUTUP

A.    KESIMPULAN

Pendidikan telah menciptakan seluruh kelas orang Indonesia yang mempunyai pendidikan Barat sampai ketingkat tertentu., dan adanya kelas ini telah menimbulkan suatu akibat yang sama dinamisnya terhadap system status di Jawa seperti pengaruh perkebunan karet di luar Jawa.
Pendidikan model barat dengan bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar, telah menimbulkan keintiman kebudayaan antara kelompok-kelompok yang luas dari orang-orang Indonesia dan orang-orang eropa yang tumbuh kembang di Indonesia.
Penyebaran Inovasi dari Lapisan Atas ke Lapisan Bawah, adanya masalah komunikasi dengan mana orang-orang dari lapisan bawah, yang pada umumnya merupakan penerima lambat menjadi tertarik untuk mengadopsi teknologi baru atas pengaruh-pengaruh orang-orang yang telah mengadopsi lebih dulu.
Dalam masyarakat polewali, terdapat tiga lapisan masyarakat; ulama, pemangku adat dan pejabat=>lapisan atas, pedagang=>lapisan menengah, buruh=>lapisan bawah.


B.     SARAN
Dalam penyusunan makalah ini masih banyak terdapat kekurangan dan masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu kritik dan saran yang membangun sangat di harapkan penulis dari pembaca, demi kesempurnaan makalah ini dan yang akan datang.





DAFTAR PUSTAKA

Sajogyo, sajogyo pudjiwati. Sosiologi Pedesaan. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta :1999

Tidak ada komentar:

Posting Komentar