Halaman

Selasa, 03 Juli 2012

Teori Perubahan Sosial



PENDAHULUAN

1.      Latar Belakang
Bila kita cermati lingkungan sekitar kita, maka kita mendapatkan perubahan yang terus terjadi, mungki dalam waktu yang cepet, mungki juga dalam waktu yang lama. Yang jelas perubahan itu pasti menimbulkan pengaruh kepada masyrakatnya. Bisa berpengaruh positif dan bisa juga berpengaruh negatif.
Yang namanya perubahan berarti bersifat dinamis, artinya mengalami pergerakan dari waktu ke waktu sampai akhirnya nantik mengalami kemajuan (positif) dalam bidang kesejahteraan masyarakat. (negatif) bisa saja membawa peubahan pada masyarakatnya justru keadaan masyarakat tidak sejahtera, terjadi karena bencana alam, kebakara dan lain sebagainya.
Maka kami penulis merasa tertarik untuk melakuka obserapasi pada Perumnas Bayu Graha, RT 03/ RW 04, kelurahan Simpang Baru kecamatan Tampan, Panam – Pekanbaru. Di daerah ini kami tertarik dengan perubahan yang terjadi dalam masyarakatnya dan bentuk pisik bangunannya. Perumahan ini jika kita lihat sepeintas, kita menyangka kehidupannya seperti masyarakat permapungan di suatu daerah. Karena perubahannya tidak melihatkan ciri-ciri perumnas. Hal itu kami tanyakan dengan ketua RW 04 kelurahan simpang Baru, yaitu dengan Bapak Agusman Rahim salah seorang mantan PNS di bidang pertanian, sambil makan kue dan minum, diya menjelaskan kepada kami perubahan yang terjadi di Perumnas Bayu Graha.  

2. Batasan Masalah
            Dalam laporan  ini, penulis membahas masalah perubahan yang terjadi di masyarakat Perumahan   Bayu Graha, RT 03/ RW 04, kelurahan Simpang Baru kecamatan Tampan, Panam – Pekanbaru. Yang menceritakan bagian-bagian perubahannya.


PEMBAHASAN

A.    Pengertian Perubahan Sosial
Sebelum kita membahas masalah perubahan yang terjadi di masyarakat khususnya masayarakat di peumnas Bayu Graha, maka terlebih dahulu kita memahami masalah peruhan sosial, yang berangkat dari sebuah pengertian. Jika pengertian atau konsep teori kita pahami maka dalam mencari perubahan yang terjadi di masyarakat, kita dengan mudah mendapatkan dan merumuskan perubahan itu.
Perubahan sosial adalah proses perubahan atau pergeseran yang terjadi dalam masyarakat, baik struktur masyarakatnya, pola sosialnya dan proses sosialnya dalam jangka waktu yang lama. Perubahan itu bisa terjadi kearah yang lebih baik, bisa juga ke arah yang buruk yang sifatnya merugikan pada masyarakat. Menurut Selo Soemarjan perubahan sosial adalah perubahan yang terjadi pada lembaga-lembaga kemasyarakatan yang dipengaruhi oleh sistem sosial, termasuk didalamnya nilai-nilai, sikap dan pola prilaku yang ada dalam masyarakat.
Perubahan sosial ini, ada yang terjadi secara alami dan buatan, secara alami terjadi karena aktivitas alam yang terus bergerak dan menimbulkan dampak kepada masyarakat yang dinamakan bencana alam, dengan adanya bencana alam, masyarakat akan mengalami perubahan, dari segi fisik masyarakatnya akan kehilangan tempat tinggal, mata pencaharian, dan harta benda. Kehidupan mereka yang tadinya kaya  akan mengalami kemiskinan dengan adanya bencana alam. Bukan itu saja tetapi struktur masyarakatnya akan berubah, proses sosialnya apa lagi. Ada perubahan yang terjadi secara buatan yaitu melalui perencanaan. Misalnya habis bencana dibangun rumah baru tempat pemukiman penduduk. Tentu dengan pola dan keadaan masyarakat yang baru. Dapat juga dimisalkan pembuatan lahan perumahan, yang tadinya hutan, dengan melihat keadaan penduduk yang makin berkembang dan mengalami kemajuan, akhirnya dibangunlah yang namanya perumnas. Daerah yang tadinya semak belukar, hutan rimba akan berubah menjadi perumahan yang dihuni oleh penduduk dengan kebutuhan mata pencaharian yang tidak berapa jauh dari tempat itu.
Setiap perubahan sering diikuti oleh perubahan budaya,  mengapa tidak masyarakat yang tadinya berasal dari sekelompok kecil dengan budaya dan suku yang sama, maka dengan jangka waktu yang  lama, maka secara berangsur-angsur masyarakat baru akan bertambah dan mendiami tempat atau perumnas itu. Dengan demikian, munculnya kelompok baru, kemudian bergabung dengan kelompok yang sudah lama menetap, bisa kemungkinan kelompok baru ini saling mempengaruhi, tergantung kelompok mana yang lebih dominan mendiami suatu wilayah itu.
Ketika kita berbicara perubahan sosial dengan perubahan budaya, maka di satu sisi orang banyak menyamakannya. Tetapi sesungguhnya berbeda. Perubahan sosial adalah perubahan yang terjadi pada struktur sosial, pola sosial, proses sosial, lapisan sosial dan stratipikasi soail. Sedangkan perubahan kebuyaan adalah perubahan yang terjadi pada pola fikir serta ide-ide dalam masyarakat. Dari pengertian ini maka dapat di artikan bahwa perubahan sosial itu perubahan yang terjadi pada masyarakat secara berkelompok dan interaksinya dalam kelompok, namun perubahan itu bisa diikuti oleh perubahan budaya yang menyebabkan perubahan pola fikir masyarakat dalam menyikapi suatu permasalahan.
Bila kita melihat pada masyarakat perumnas, perubahan dalam struktur dan pola interaksi masyarakat serta kebudayaan  bisa saja terjadi. Namun hal itu di pengaruhi oleh satu budaya yang paling dominan yang berada di perumnas itu, misalnya dalam perumnas itu di huni oleh masarakat yang mempunyai suku yang sama, misalnya jawa. Maka kebiasaan atau budaya yang sering digunakan adalah kebiasaan jawa yang lebih cenderung hidup bersosialisasi dengan tetangga dan cenderung rajin dalam bekerja. Interaksinya pun agak kejawaan dan punya nilai budaya tersendiri yang mengikat mereka.
Untuk lebih lanjutnya, penelitian lapangan harus kita lakukan agar bentuk perubahan seperti apa yang terjadi dalam  masyaraka dapat diketahuit. Yang jelas perubahan sosial yang terjadi dalam masyarakat mempunyai dampak positif dan dampak negatif, dampak positif akan membawa masyarakat kearah kemajuan, namun dengan kemajuan itu, tersisa juga dampak negatif dari yang dilakukan dan yang dikerjakan masyarakat.  
Untuk itu dalam pembahasan selanjutnya akan dibahas mengenai perubahan sosial yang terjadi di Perumnas Bayu Graha, RT 03/ RW 04, kelurahan Simpang Baru kecamatan Tampan, Panam – Pekanbaru.

B. Sejarah Perumnas Bayu Graha
            Perumnas Bayu Graha berdiri dan dibagun pada tahun 2000, lebih kurang 11 tahun sampai sekarang. Perumahan ini dahulunya terletak di daerah yang panam ketika itu belum mengalami perkembangan, tapi sudah ada rancangan perkembagan, banyak penduduk dari luar daerah hijrah dan bermukim disana dengan membuat sebuah tempat tinggal yang boleh kami katakan bebentuk gubuk. Pada masa itu panam masih lebat hutannya, sehingga masyarakat yang tadinya bermukim disana, juga menjalankan kewajibannya sebagai manusia dalam mencari nafkah dan terbuka lah lahan itu.
            Dengan semakin bertambahnya penduduk, dan terdapatnya sumber pemenuhan kebutuhan masyarakat disana, akhirnya menarik peminat para pengusaha untuk membuat perumnas dengan tipe 3 x 6. Akhirnya penduduk tadi mulai mendiami suatu rumah hunian baru disana. Awalnya masyarakatnya mulai tekan kontrak kredit rumah hanya beberapa KK, karena kesulitan ekonomi juga yang membuat mereka tidak sanggup untuk menghuninya. Namun dengan berjalannya waktu, tahun ke tahun akhirnya Perumnas Bayu Graha di padati penduduk. Awalnya masuk 5 KK dari suku Minang, kemudian bertambah 2 KK melayu, Kemudian bertambah 3 KK lagi dari suku batak, hal ini terus berlanjut sampai perumahan itu terisi semua, sampe sekarang Perumnas bayu Graha mencapai 76 KK. 80% masyarakat perumnas ini ber agama islam. 20% masyarakatnya beragama kristen. Penduduknya rata-rata 25% PNS, selebihnya wiraswasta.

C. Perubahan Dibidang Ekonomi
            Pada awal berdirinya perumnas ini, masyarakat dengan perekonomian miskin banyak menjadi petani kecil-kecilan, dari hasil panenya, masyarakat menjualnya kepasar dan membeli barang kebutuhan rumah tangganya. Pengahsilan itu cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja, namun masyarakat dikatakan tidak dapat memenuhi kebutuhan primer, atau memiliki uang simpanan.
            Pada masa itu panam belum mengalami kemajuan seperti sekarang ini, pada akhirnya masayarakat yang tadinya lama menetap dan mencari pekerjaan ketempat lain, dari penghasilan itu mereka tabung kemudian mereka mendirkan sebuah warung kecil kecilan yang menjual barang kebutuhan pokok rumah tangga.
            Bila di lahat data yang ada sekarang  masyarakatnya sudah banyak menjadi wira usaha, bukan saja bejualan di sekitar perumahan lagi, tettapi sudah menyewa ruko dan tempat berjualan di pasar pagi panam. Di samping itu, masyarakatnya juga ada yang PNS dengan penghasilan perbulannya menetap, dari segi ekonomi masayarakat yang dulu dikatakan miskin, sekrang sudang menjadi tahab perkembangan yang tidak saja lagi mampu mencukupi kebutuhan primernya, tetapi kebutuhan sekundernya juga sudah terpenuhi.

D. Perubahan Dalam Bidang pendidikan
            Pada tahun 2000, yaitu awanya masyarakat mulai menempati perumnas Bayu Graha, pendidikan masyarakatnya masih menim, banyak diantara mereka yang tamat SD, meskipun ada juga yang tamat SMP atau sederajat. Namun, dengan makin bertambahnya warga baru di pemukiman ini menambah volume tingkat pendidikan, sekrang sudah ada warga baru masukyang lulus S1 (PNS), mereka menetap bersama istri dan anaknya.
            Walaupun demikian, orang tua yang tadinya hanya tamat SD atau SMP, mereka dapat  memajuka pendidikan anak-anak mereka yang sekarang banyak duduk di bangku sekolah tingkat SMP atau sederajat. Hal itu dapat dilihat dengan berdirinya sekaolah-sekolah di sekitar perumahan dari berbagai tingkatan, mereka dengan mudah dapat menyekolahkan anaknya, tida perlu lagi membayar ongkos mahal, tetapi cukup dengan berjalan kaki anak-anak mereka sampai kesekolah. Kemungkinan beberapa tahun mendatang masyarakat nya disi bukan mnim lagi pendidikannya, tetapi berubah menjadi perubahan yang diisi oleh orang-orang yang beragam tingkat pendidikannya, dan hal itu akan memepengaruhi tingkat hubungan sosialnya atara masyarakat yang satu dengan amsyarakat yang lain.

E. Perubahan Dari Segi Budaya
            Salah satu suku yang pertama masuk perubahan ini adalah suku minang dari Sumatra Barat, yaitu suku pariaman. Mereka hijrah dari kampung halaman mereka dengan maksut  mencari kehidupan baru. Awalnya mereka Cuma beberapa KK, tetapi lama kelamaan, orang yang sekampung dengan mereka mulai mengikut dan bertangan. Sebagaimana yang kita ketahuim suku ini suka sekali merantau dan suka bekerja. Dengan waktu yang lama akhirnya mereka mendomisili peru. mnas ini, walaipun ada beberapa orang melayau, orang batak (Batak islam) dan orang Bankinang, tetapi itu menjadi kelompok yang minoritas. Akhirnya, krana segala aktifitas wira usaha banyak dilakukan oleh orang minang,maka kebudayaan yang cenderung digunakan kebudayaan minang. Seperti dari segi bahasa yang mencolok adalah bahasa minang, adat bertetangga yang rukun dan bertegur sapa, adat sakit saling melihat dan membantu.
            Yang mengalami perubahan, dahulunya mereka yang berasal dari minang ketanl dengan adat mereka, tetapi dengan waktu yang lama, akhirnya mereka meninggalkan kebiasaan mereka, seperti memakai baju yang sopan, tetapi sekarang tidak lagi ibu-ibu dan remajanya sudah meninggalkan budaya aslinya dari segi pakaian, mereka cenderung mengikuti perkembangan zaman, artinya disini terjadi perubahan sosial, yang dipengaruhi oleh kebudayaan asing yang datang dari luar.

F. Perubahan Pada Kesehatan
            Perubahan dalam bidang ini, mungkin tidak pada kesehatannya langsung, karna kesehatan pada masa awal perumnas ini sulit di dekripsikan secara jelas dan pasti, tapi dapat kita lihat dari pasilitas kesehatan yang ada.
            Di Perumnas ini telah berdiri banyak sekali klinik dokter 24 jam dan puskesmas. Dulu masyarakatnya kalau dalam keadaan sakit, mereka harus pergi kerumah sakit Umum Daerah, proses melahirkan pun pergi kesana. Mungkin ini dikatakan susah dalam bidang kesehatan, mereka harus menahan sakit dahulu baru sampai kerumah sakit. Tapi sekarang dengan hadirnya klinik 24 jam dan puskesmas, mereka merasa terbantu dan di mudahkan dalam kesehatan ketika mereka mengalami sakit.

G. Perubahan Pada Pisik Perumnas
            Perumbanas Bayu Graha ini memiliki tipe rumah dengan ukuran 3 x 6, dengan di pasilitasi dua kamar dan satu ruang tengah. Halaman rumah yang tidak begitu lauas. Sebelah barat berbatasan dengan jalan Garuda Ssakti, sebelah timur dengan salah satu PT.Sabun Atau SPBU. Utara dengan jalan HR.Subrantas dan sebelah selatan dengan hutan.
            Ketika lahan ini dubuka masyarakat,  masyarakat menebangi hutan yang begitu besar dan rawa. Disitulah masayarakat berdiam dan mencari kebutuhan makanan. Setelah lahan ini menjadi proyek perumahan oleh para punya modal, maka lahan ini disulap menjadi  perumbahan sederhana yang layak huni, kita bisa melihat bangunan baru itu masih kelihatan gersang dan belum ada pepohonan yang hidup. Dengan munculnya ide dari masyarakat, akhirnya masyarakat mulailah menanam pohon di pekarangan rumahnya masing-masing sehingga kelihatan hijau. Sumur resapan dibangun disetiap rumah dan mengalir di sepanjang perumahan. Jika keadaan sekarang, maka sumur resapan itu sudah ada yang mengalami kedangkalan akibat tidak di bersihkan, ada juga yang tertimbun oleh material pasir bagunan.
            Perubahan pada bentuk bangunan rumah, kalau sekarang hanay tinggal 20% yang masih bangunan asli, kebanyakan warga memperbaharui dari bentuk bangunan itu, ada yang di tambah pariasinya, ada yang di tambah ukuran lebarnya, ada yang rubah warna dan bentuk halannya, tergantung dari pada kehendah si pemilik rumah. Ada yang beru pindah 2 hari langsung melakukan prubahan terhadap struktur bangunan rumah. Sehingga sekarang tidak ada kesamaan antara rumah yang satu dengan yang lain, dan bila kita melihatnya tidak seperti peruhan lagi, sudah seperti pemukiman masyarakat desa, karna ciri-ciri dari perumahan tadi sudah hilang.
           
           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar